Skip to main content

Without Courage, Without Strength, Without Willing to Give Up

ode pinggiran jakarta

the brandals

intip malas terang sinar mentari
kupaksa kepala kaki berdiri
berat mata tutup 4 jam
dimana kutinggal rokok-ku semalam?

jatuh bangun kuraih sendok nasib-ku
tak berubah sejak dua tahun yang lalu
cekung mata kurus kerontang
kopi mie instan kulit membalut tulang

*
tapi ku (dan kau/ tapi kau)
(jangan) tidak pernah menyerah
pantang (diulang) jangan tadahkan tangan
di hati semua sama tinggi
atas bawah akan berpindah
nyanyikan, nyanyikan saja lagi
suara kita akan terdengar

terjal aspal debu kampung melayu
kejar metro mini napas diburu
bergulir roda ke timur jakarta
jejak kaki tinggalkan banyak cerita

wajah letih peluh penuh guratan luka
bergulat melawan tembok hati manusia
tak tahan beban tagihan harus terbayar
terjatuh, limbung, bangkit, ayo coba!

back to *

keruh dalam kelam sampah air ciliwung
rentang tangan kaki-mu pendek terkurung
mengais iba peluh ibu kota
tantang nasib kapan giliran tiba

disini banyak tercecer rongsok derita
tak sedap bau aroma, palingkan mata
bantar gebang, kebon kacang, prumpung,
tanah tinggi, priok, kemayoran

back to *

Comments

Popular posts from this blog

Dialog LX: You Tube, I Test

kata seorang teman , blog ini membosankan, isinya hanya tulisan melulu. maka saya mencoba untuk melakukan hal umum yang ternyata hampir belum pernah saya lakukan: memasang konten dari youtube . yup, hanya untuk memuaskan generasi audiovisual. kayaknya tidak perlu dijelaskan cara memasang konten dari youtube . namun saya baru tahu kalau setidaknya ada 2 cara; memanfaatkan video bar dan posting langsung. btw karena video naif yang sebelumnya agak diprotes, saya pasang naif yang lebih bagus. hidup naif!!! btw ini settingannya dikostumisasi dari youtube-nya. pakai border, tanpa video terkait, dan warna biru. lihat juga video bar 'favorite view' di sebelah kanan. namun nampaknya jika memberatkan, video bar ini akan dicabut.

Dialog LV: Coelho Calling?

when narcissus died, the goddesses of the forest appeared and found the lake, which had been fresh water, transformed into a lake of salty tears. "why do you weep?" the goddesses asked. "i weep for narcissus," the lake replied. "ah, it is no surprise that you weep for narcissus," they said, "for though we always pursued him in the forest, you alone could contemplate his beauty close at hand." "but..... was narcissus beautiful?" the lake asked. "who better than you to know that?" the goddesses said in wonder, "after all, it was by your banks that he knelt each day to contemplate himself!!" the lake was silent for some time. finally it said: "i weep for narcissus, but i never noticed that narcissus was beautiful. i weep because, each time he knelt beside my banks, i could see, in the depths of his eyes, my own beauty reflected." paulo coelho bukunya sudah terjual 43 juta kopi dan diterjemahkan ke dalam 56 bah...

Dialog LXXX: Banyak Jalan Menuju Tomorrowland (Bag. 1/2)

niat beli nasi goreng dekat kantor, berakhir nyasar ke pvj -_- yah, mumpung belum nonton mad max di blitz. eh, udah ada tomorrowland! film ini udah saya tunggu sejak matt inman, kartunis theoatmeal.com, diwawancara terkait tesla untuk riset film ini . mad max ntar lagi deh. kamu perlu lebih mengontrol diri dari aktivitas spontan yang menguras dompet. tapi yang ini kayaknya boleh. filmnya boleh banget sih tapi agak sulit menangkap plotnya...   *spoiler alert*