Skip to main content

bagian satu

http://amazingsuperpowers.com

hari ini maupun kemarin bukan ulang tahunku, tapi kemarin paman, bibi, dan sepupu berpikir begitu. sampai aku pulang dan mengatakan bukan. namun ami sepupu kecilku tetap bertanya, 'a fajar ulang tahun yang ke berapa, bu?'. sekarang aku ingat. sudah lama aku tidak peduli berapa pastinya umurku; yang setiap pertambahannya dibatasi oleh hari 'ulang tahun' (disingkat, ultah). beberapa tahun terakhir aku mencoba untuk tidak mengingat hari ultahku. tidak menampilkan tanggal lahirku di situs-situs jejaring sosial dan blog. berusaha tidak mengharapkan ucapan selamat ultah dari teman. juga hampir tidak pernah mengucapkan selamat ultah kepada siapapun, khususnya lewat internet. kecuali kepada sedikit sahabat, kerabat, dan beberapa teman yang disoraki berbagai tagihan traktir karena ultah; atau teman yang tiba-tiba berbagi makanan atau traktiran memperingati ultahnya.

intinya aku mencoba untuk tidak menganggap ultah sebagai sesuatu yang spesial. bukan hanya karena budaya ultah ini tidak islami tetapi juga karena merayakannya bagiku adalah tidak perlu. aku ingin menciptakan budaya pribadi tanpa hari ulang tahun. budaya yang menganggap kalender gregorian adalah buatan manusia. budaya yang meyakini bahwa 12 bulan ditetapkan Tuhan dan Ia setidaknya menyebutkan ramadhan pada firman-Nya; yang membuatku berpikir bahwa mungkin sistem penanggalan hijriyah buatan umar r.a. lebih mendekati kebenaran. budaya yang meyakini bahwa aku telah mengalami peningkatan (dan penurunan) tiap detik, tidak hanya tiap tahun. budaya yang mengklaim bahwa tumbuh adalah akumulasi dari perkembangan fisiologis dan perubahan kemampuan untuk mengendalikannya.

budaya yang mengakibatkan aku menulis 5 september 1987 pada situasi yang sangat resmi, terpaksa, atau takut dianggap 'freak' jika mengatakan 'saya mungkin lahir pada 11 muharram 1408h'. akibat lebih lanjut, apabila ami sepupuku yang baru masuk tk itu menanyakan umurku, aku akan berpikir, 'hmmm... 23, 22, atau mungkin 24... teuing ah'. ok, baiklah. secara resmi (untuk di indonesia), aku akan mengatakan bahwa umurku 22 menuju 23. dalam hati, aku berkata 'sebenarnya umurku 23 menuju 24'. untuk ami, mungkin aku akan mengatakan yang terakhir, yang saya katakan dalam hati. atau mungkin tidak.

meskipun demikian, aku tetap mengingat tanggal lahirku besertaan dengan munculnya perasaan tertentu jika mendekati tanggal tersebut, baik yang 5 september maupun 11 muharram. aku tersenyum saja jika ada yang ingat tanggal lahirku; dan tentu akan ada yang selalu ingat, sebab aku adalah 'dilahirkan'. kadang (....ok, jarang) aku berani mengatakan penolakan halus bahwa aku masih mencari tahu kapan aku lahir, pada kalender hijriyah (11 muharram 1408h itu masih perkiraan). meskipun begitu, aku masih ingat bahwa pada tanggal 5 september tahun lalu ada 3 orang yang memberi ucapan lewat sms dan seorang yang mengucapkan lewat chatting. dan akan selalu ada seorang sahabat yang mengingat tanggal lahirku sebab dia lahir besoknya. sebaliknya, ternyata sekalipun aku lebih peduli dengan 11 muharram, aku selalu dibuat lupa menjelang hari tersebut hingga berlalu tanpa kesan atau perayaan-sunyi-diam-diam pribadi. sedikit kecewa.

jadi, meski aku tidak benar-benar berhasil menganggap suatu ultah tidak spesial ataupun bahkan melupakannya, aku lebih memperhatikan perubahan yang terjadi pada diriku. aku jadi lebih pemaaf dan penyabar dibanding dulu. jadi lebih suka anak kecil, meski masih tidak suka secara keseluruhan. semakin bisa berpikir positif, meski masih kurang positif. semakin berani untuk ramah. semakin tahu cara menghadapi sesuatu dan seseorang serta semakin memperkaya cara pandang dan cara berpikir, meski sering dibuat lupa tentang semua itu. juga semakin menyadari bahwa pada beberapa hal saya stagnan; contohnya berat badan dan level kerajinan. pada cukup banyak hal lagi, aku mengalami banyak kemunduran dan menambah banyak kekeliruan. dan kadang aku menjadikan tanggal lahir sebagai checkpoint perkembangan diri atau pertambahan dosa. dengan itu, aku bisa melokalisir masalah; kenapa pada jangka waktu di antara dua checkpoint mengalami peningkatan atau melakukan kesalahan. jadi... hey ternyata mengingat tanggal lahir ada gunanya juga.

setidaknya aku jadi terinspirasi untuk membuat tulisan yang 'lumayan' di blog ini menjelang ultah-kalender-gregorian-ku. tapi bagiku perayaan atau sukuran tetap tidak perlu. lebih baik mengevaluasi dan merancang strategi, kapanpun di waktu senggang. sebab seperti biasa, err... kalau belum bisa cari uang, jangan buang uang untuk hal yang tak perlu... seperti traktiran ultah.

dan seterusnya... waktu itu terbang.

Comments

Popular posts from this blog

Dialog LX: You Tube, I Test

kata seorang teman , blog ini membosankan, isinya hanya tulisan melulu. maka saya mencoba untuk melakukan hal umum yang ternyata hampir belum pernah saya lakukan: memasang konten dari youtube . yup, hanya untuk memuaskan generasi audiovisual. kayaknya tidak perlu dijelaskan cara memasang konten dari youtube . namun saya baru tahu kalau setidaknya ada 2 cara; memanfaatkan video bar dan posting langsung. btw karena video naif yang sebelumnya agak diprotes, saya pasang naif yang lebih bagus. hidup naif!!! btw ini settingannya dikostumisasi dari youtube-nya. pakai border, tanpa video terkait, dan warna biru. lihat juga video bar 'favorite view' di sebelah kanan. namun nampaknya jika memberatkan, video bar ini akan dicabut.

Dialog LV: Coelho Calling?

when narcissus died, the goddesses of the forest appeared and found the lake, which had been fresh water, transformed into a lake of salty tears. "why do you weep?" the goddesses asked. "i weep for narcissus," the lake replied. "ah, it is no surprise that you weep for narcissus," they said, "for though we always pursued him in the forest, you alone could contemplate his beauty close at hand." "but..... was narcissus beautiful?" the lake asked. "who better than you to know that?" the goddesses said in wonder, "after all, it was by your banks that he knelt each day to contemplate himself!!" the lake was silent for some time. finally it said: "i weep for narcissus, but i never noticed that narcissus was beautiful. i weep because, each time he knelt beside my banks, i could see, in the depths of his eyes, my own beauty reflected." paulo coelho bukunya sudah terjual 43 juta kopi dan diterjemahkan ke dalam 56 bah...

Dialog LXXX: Banyak Jalan Menuju Tomorrowland (Bag. 1/2)

niat beli nasi goreng dekat kantor, berakhir nyasar ke pvj -_- yah, mumpung belum nonton mad max di blitz. eh, udah ada tomorrowland! film ini udah saya tunggu sejak matt inman, kartunis theoatmeal.com, diwawancara terkait tesla untuk riset film ini . mad max ntar lagi deh. kamu perlu lebih mengontrol diri dari aktivitas spontan yang menguras dompet. tapi yang ini kayaknya boleh. filmnya boleh banget sih tapi agak sulit menangkap plotnya...   *spoiler alert*