Skip to main content

Posts

bagian dua

http://xkcd.com/791/ dan seterusnya waktu terbang melesat, menjadikan kita fungsi waktu yang bergerak mendekati suatu akhir; mati. soal mati, aku jadi ingat kultum subuh di masjid al-aniyah pada tanggal 18 agustus kemarin (8 ramadhan). sebelumnya, menjelang akhir sholat subuh berjama’ah, handphone seorang jama’ah berdering dengan ringtone islami. usai sholat, penceramah kultum naik mimbar dan berkata ‘kita tidak tahu kapan kita mati, sama seperti kita tidak tahu kapan hape kita berbunyi’. penceramah melanjutkan, bahwa untungnya si pemilik handphone sudah mempersiapkan handphonenya dengan ringotone islami. karenanya, kata penceramah, kita juga harus mempersiapkan diri dengan yang amalan baik, sebelum meninggal. geli dan kagum melihat penceramah ini bisa melihat kondisi dan langsung menjadikannya bahan kultum. adalah biasa bagi penceramah untuk mengingatkan kita akan kematian. tapi aku tidak benar-benar tergerak untuk mengingat mati waktu itu. kematian siapapun. tidak juga menyangka bah...

bagian satu

http://amazingsuperpowers.com hari ini maupun kemarin bukan ulang tahunku, tapi kemarin paman, bibi, dan sepupu berpikir begitu. sampai aku pulang dan mengatakan bukan. namun ami sepupu kecilku tetap bertanya, 'a fajar ulang tahun yang ke berapa, bu?'. sekarang aku ingat. sudah lama aku tidak peduli berapa pastinya umurku; yang setiap pertambahannya dibatasi oleh hari 'ulang tahun' (disingkat, ultah). beberapa tahun terakhir aku mencoba untuk tidak mengingat hari ultahku. tidak menampilkan tanggal lahirku di situs-situs jejaring sosial dan blog. berusaha tidak mengharapkan ucapan selamat ultah dari teman. juga hampir tidak pernah mengucapkan selamat ultah kepada siapapun, khususnya lewat internet. kecuali kepada sedikit sahabat, kerabat, dan beberapa teman yang disoraki berbagai tagihan traktir karena ultah; atau teman yang tiba-tiba berbagi makanan atau traktiran memperingati ultahnya. intinya aku mencoba untuk tidak menganggap ultah sebagai sesuatu yang spesial. buka...

Dialog LXXIII: Traction Control

gaudeamus igitur! karenanya marilah kita bergembira! hari ini (10 april 10) wisuda di itb. cukup melihat kemacetan, orang bertoga, lalu menyadari hari ini hari wisuda. tidak perlu berkeliling kampus untuk melihat kegembiraan para wisudawan beserta keharuan keluarga mereka. kampus sepi bergembira. kontras sangat dengan yang di dalam sini. dadaku. yang telah beberapa bulan membangun ketenangan menuju wisuda yang masih lama lagi, disuntik pertanyaan: kapan giliranku? atau ingat? istilah yang kamu buat pada oktober: 'saat sebagian yang lain berada di puncak kebahagiaan, sebagian yang lain berada di palung kesedihan terdalam' ^_^ err... mungkin itu sih ada faktor lain. tapi kontrasnya suasana ini membuat kampus serasa... asing, seperti underland -_-. well kenapa tidak ikut saja bergembira bersama yang sedang hajat? iya sih, mungkin untuk wisudaan selanjutnya harus siap-siap untuk bersenang-senang -_-. untuk saat ini mungkin lebih penting untuk menuliskan yang lebih penting. tulisan ...

Sedikit Sebelum Tetes Hujan Terakhir

dan di bumi dengan orang-orang berpesta canda bodoh menggantikan kenyataan tertawalah aku ada di dalamnya menunggu hujan reda sambil menyantap gorengan di pusat kampus mencoba untuk memenuhi sumpah bahwa aku akan berganti suasana tiada di samping kalian sebentar saja hujan yang kuamati sama saja sambil bertanya-tanya benarkah c***a tiada berakhir? mengapa dia mempertanyakan c***anya? akankah sumpah-sumpah ini abadi sampai batas akhir? nah hujan telah reda saatnya beristirahat menyebut-nyebut kesalahan hari ini agar besok tak diulangi atau besoknya lagi saja

Bigband Fantasy

fany kecil sedang berjalan pada malam yang rintik di kampus bandung saat tiba-tiba tersesat di new york. hingar bingar malam. musik dan musik. brass bertarung dengan bass dan piano. bagi fany, itulah new york. fany kecil sendirian di sana, namun ia merasa senang berada di tempat yang sering dia idamkan. dia hanya mengenal tempat itu dari dongeng-dongeng teman mainnya. kini, dia mendengarnya langsung. fany kecil melewati sekumpulan anak-anak cina. dia pikir mungkin inilah chinatown atau pecinan. anak-anak cina itu diasuh oleh seorang cina tua yang penuh haru. lucu. mereka juga membawa dua orang pribumi. seorang gadis kecil dari mereka dengan suara anak kecilnya bermain di winter wonderland. gadis lugu yang suka bicara ini bisa bermain apa saja sesukanya. dia mengucapkan sesuatu pada fany kecil. selamat natal dan tahun baru, katanya. aneh, menurut fany kecil. natal kan masih dua puluh hari lagi. lelaki kurus dengan ikatan rambut yang aneh tapi menarik memimpin teman-temannya yang kemerah...

Dialog LXXII: Kunang-kunang

orang memandang dunia dengan tatapan takjub ketika kecil dan menggantinya dengan tatapan takut ketika dewasa -ibad- seorang teman berkata saat kami bercanda "basa tpb -tingkat 1- mah sagala teh asa serab, ayeuna mah da gelap weh..." lalu dia tertawa. kami tertawa. dalam kegelapan tingkat atas yang kami sebut-sebut, kami tertawa. yup, saat kita sedikit lebih muda dari saat ini, dunia itu silau. silau oleh optimisme, percaya diri, dan mimpi-mimpi. tiba-tiba sudah ada di sini. bersama teman-teman yang sebagian diam-diam dirinya terbelah antara merasa lebih sampah dari yang lain dan merasa lebih dewa dari yang lain. merasa sedikit ketakutan oleh masa depan dan masa kini yang suram. saya jadi rindu kunang-kunang. serangga yang lebih lincah dari bintang-bintang meski memiliki kelip yang sama. kelip yang kadang berwarna putih, kemerahan, atau kebiruan. iya gitu? kunang-kunang cahayanya kuning kan? ga tahu ya, seingat saya begitu. mungkin ingatan...

Dialog LXXI: This Saturday Night's Poem

dengarkan, pelajar sarungkan penamu tintanya lelah mengalir seperti matamu yang lelah oleh monitor istirahatkan pikiran, tidak untuk lengah kita tahu aku telah banyak tertidur menyesalkan orang berlari sampai jauh jika lebih diam lagi aku akan tertinggal pecundang yang berdiri sendiri belakangan kamu bersemangat suatu perasaan yang hebat dengan perasaan tersebut mungkin tidak perlu lagi cinta jalanan padat, langit bersorak orang bersenang-senang tanpa aku lalu akan tetap begitu aku bukan bagian dari mereka aku belum mandiri untuk bersenang aku masih pemuda yang butuh berjuang belum tiba menebus rindu keluarga belum tiba keniscayaan berkeluarga aku melihat lewat matamu dunia di sekitar kita bergolak hubungan terjalin dan terputus menjadi kabar yang mengarahkan aliran hidup malam yang mengurangi hidup sebagian kau buang separuh disisihkan untuk istirahat yang tak santai sesekali tutuplah penamu bukakan mata dan hati