Minggu kemarin jalan-jalan ke Gasibu. Niatnya lihat hasil renovasi yang ngegabungin Gedung Sate dengan kawasan Gasibu. Aku ga ngerti urgensinya, tapi siapa tahu hasilnya lumayan bagus. Eh, mengecewakan. Daerah Gedung Satu dan Gasibu ternyata masih ditutup juga, sih. Bagian Gasibunya belum beres dan banyak masalah. Bisa dipahami, sih, jika ingin menyatukan Gasibu dan Gedung Sate menjadi kawasan terbuka yang luas. Namun, sepertinya ada kompensasi atas penutupan jalan depan Gedung Sate dengan membuka satu lajur mengitari Gasibu yang mengikis batas-batasnya. Karena ada pembatas, potensi salah lajur dan kejebak. Lol. Penyebrangan dari Monumen Perjuangan jadi lebih jauh, akses terbatas, dan... kenapa tidak ada yang melihat ketinggian trotoar lalu melihatnya sebagai potensi bahaya? Belum lagi keluhan masyarakat difabel yang merasakan kalau fasilitas aksesibilitasnya jelek; tanjakan kursi roda di jalur masuk dekat penyebrangan terlalu curam. Aku tidak masalah juga kalau Pemprov ingi...
Ternyata sudah tiga kali aku mendokumentasikan suasana Hari Kemerdekaan. Aneh, buatku, yang tidak begitu nasionalis, dan tidak mengimani ‘NKRI harga mati’. Namun, bertahun-tahun tidak peduli membuatku penasaran. 2 tahun lalu aku berjalan-jalan di sekitar Sukaraja dan Gunung Batu melalui gang sempit dengan umbul-umbul melintang di langitnya dan terjebak dalam pawai yang menyesakkan jalan. Pesawat-pesawatan dari tempelan kertas merayap tidak jauh dari lapang udara tempat hangar-hangar berisi pesawat betulan. Tahun lalu aku hanya menonton upacara di alun-alun kampung halaman. Barisan Korpri bubar sebelum upcara benar-benar habis. Polisi dan militer masih tegak berdiri di tengah terik langit Agustus. Ah, kupikir, makanya ASN-ASN yang tidak hormat pada kekhidmatan acara dan tidak punya tenggang rasa ini sebaiknya diganti saja dengan orang-orang barak. Hingga aku ingat kalau upacara ini adalah kebiasaan militer, sedangkan atasan ASN itu setidaknya berteduh di bawah tenda. Tahun ini aku b...