Skip to main content

Dialog (not really) LXXXV: Bacotan Tujuhbelasan Ke-81RI

Ternyata sudah tiga kali aku mendokumentasikan suasana Hari Kemerdekaan. Aneh, buatku, yang tidak begitu nasionalis, dan tidak mengimani ‘NKRI harga mati’. Namun, bertahun-tahun tidak peduli membuatku penasaran.

2 tahun lalu aku berjalan-jalan di sekitar Sukaraja dan Gunung Batu melalui gang sempit dengan umbul-umbul melintang di langitnya dan terjebak dalam pawai yang menyesakkan jalan. Pesawat-pesawatan dari tempelan kertas merayap tidak jauh dari lapang udara tempat hangar-hangar berisi pesawat betulan.

Tahun lalu aku hanya menonton upacara di alun-alun kampung halaman. Barisan Korpri bubar sebelum upcara benar-benar habis. Polisi dan militer masih tegak berdiri di tengah terik langit Agustus. Ah, kupikir, makanya ASN-ASN yang tidak hormat pada kekhidmatan acara dan tidak punya tenggang rasa ini sebaiknya diganti saja dengan orang-orang barak. Hingga aku ingat kalau upacara ini adalah kebiasaan militer, sedangkan atasan ASN itu setidaknya berteduh di bawah tenda.

Tahun ini aku berjalan-jalan di sekitar rumah. Selintas melewati upacara di alun-alun, lalu bergerak lagi melihat lomba-lomba di teras toko-toko besar. Anak-anak dan ibu-ibu berjalan beriringan dengan pakaian merah-putih. Pemandangan yang bertahan setiap pagi sampai beberapa hari ke depan. Sesekali melintas motor, angkot, atau becak dengan bendera terkibar. Toko baju dipenuhi kaos merah-putih. Banyak yang disablon dengan gambar hasil kecerdasan buatan. Di sudut-sudut lain yang agak dekat dengan alun-alun, orang-orang berbatik Korpri berkeliaran. Mungkin seharusnya aku tidak melihat mereka di tempat-tempat itu.

Lalu di televisi, terlihat karnaval meriah di ibu kota. Ratusan ribu, katanya, berlari entah menuju apa. Di media sosial, jauh di kecamatan lain di kabupaten kampungku orang mendirikan monster dan kapal selam raksasa. Sisanya berempati pada bencana gempa di NTT, berbagi suasana yang meriah/sepi (proyeksi pandangan masing-masing), dan atau menyatakan pernyataan; kita belum merdeka.

Aku tidak mau ikut-ikutan bilang kita belum merdeka dan sebagainya. Pernyataan itu seperti tidak menghargai aktivis, diplomat, dan pejuang masa revolusi. Aku paham kita frustasi dengan situasi saat ini. Aku juga merasakannya. Lagipula, kita perlu mengakui bahwa banyak aspek yang tidak sukses dalam perubahan tatanan kenegaraan baik itu di Reformasi ’98 dan sama juga waktu Revolusi ’45. Namun, rasa frustasi itu masih kalah dengan rasa hormat saya pada orang-orang yang berjuang dan mencapai kemenangannya. Meski saat ini kita pandang semu. Atau kita anggap kecil.

Apakah aku terpengaruh perayaan orang-orang? Tadinya aku berniat untuk mengkonfirmasi bahwa animo masyarakat soal 17-an sudah meredup. Aku ingat waktu kecil, pawai 17-an selalu masif dan meriah. Sekarang tidak begitu. Diganti acara-acara yang sporadis di RT atau kantor masing-masing. Tradisi-tradisi masih menghubungkan seseorang dengan warga Indonesia lain yang merayakan dengan cara yang sama di setiap ruang dan masa. Atau setidaknya, memberikan rehat dari frustasi baik yang diakibatkan oleh negara itu sendiri atau bukan.

Antusiasme itu ada. Berkurang? Entah. Relevan dengan kemerdekaan? Juga entah.

Teman lamaku diwawancara di televisi. Kerjanya jadi congor pemerintah; dan dia punya congor termanis senegri ini yang sangat kompeten untuk kerjanya itu. Menanggapi kritik perayaan di tengah musibah di NTT (atau keluhan apapun), dia menanggapi bahwa kita (atau presiden? Lupa) ingin menyebarkan energi dari perayaan itu ke seluruh negeri. Maksudnya agar menjadi semangat yang berdampak positif kepada seluruh warga, dan tak lupa menitip doa dan empati pada musibah di NTT. Aku sudah eneg dengan kata-kata manis, tapi memang berharap perayaan dihentikan itu tidak rasional dan tidak adil bagi penyelenggara. Apapun alasannya; empati lah, belum merdeka lah. Namun, aku sedikit berharap Presiden merayakannya di NTT alih-alih di istana. Persetan tamu negara.

Seperti yang orang sok tahu bilang, negara ini proyek yang belum selesai. Progress tidak bisa jadi semalam dan tidak liniear; ada turun-naiknya. Atau seperti yang dibilang @based.indo (The Based(less) Indonesian Show), buang mimpi untuk melihat perubahan di masa hidupmu. Berjuanglah untuk perubahan yang akan dirasakan generasi setelahnya. Aku sepakat. Tentu saja banyak yang berkomentar bahwa itu seakan mengkerdilkan usaha para aktivis saat ini. ‘Apakah terlalu egois jika aku ingin melihat perubahan itu saat ini?’ Ga. Namun, ngapain sih ngejar hasil tanpa menghadapi proses? Apalagi tanpa belajar dari sejarah bahwa peradaban luhur yang terbangun berabad lebih kuat dan damai daripada perubahan berdarah semalam.

Aku membayangkan, ada orang yang mengambil semangat apapun yang ia punya hari ini, betapapun tercemar. Ia lalu mengubahnya menjadi bibit pohon dan mengurusnya. Lalu mengajarkan orang lain untuk merawatnya. Sepeninggalnya, pohon itu terus tumbuh, memberi manfaat pada generasi anaknya. Lalu cucunya. Lalu cicitnya berteduh di bawah pohon yang kokoh itu. Kalau tidak mau jadi orang itu, biarkan orang merayakan, dan menjadikan optimisme dari perayaan sebagai bibit yang bertumbuh, berkelanjutan, dan menjadi pondasi yang memperluhur pohon.

Semoga bukan pohon sawit- eh.

Comments

Popular posts from this blog

Dialog LX: You Tube, I Test

kata seorang teman , blog ini membosankan, isinya hanya tulisan melulu. maka saya mencoba untuk melakukan hal umum yang ternyata hampir belum pernah saya lakukan: memasang konten dari youtube . yup, hanya untuk memuaskan generasi audiovisual. kayaknya tidak perlu dijelaskan cara memasang konten dari youtube . namun saya baru tahu kalau setidaknya ada 2 cara; memanfaatkan video bar dan posting langsung. btw karena video naif yang sebelumnya agak diprotes, saya pasang naif yang lebih bagus. hidup naif!!! btw ini settingannya dikostumisasi dari youtube-nya. pakai border, tanpa video terkait, dan warna biru. lihat juga video bar 'favorite view' di sebelah kanan. namun nampaknya jika memberatkan, video bar ini akan dicabut.

Dialog LV: Coelho Calling?

when narcissus died, the goddesses of the forest appeared and found the lake, which had been fresh water, transformed into a lake of salty tears. "why do you weep?" the goddesses asked. "i weep for narcissus," the lake replied. "ah, it is no surprise that you weep for narcissus," they said, "for though we always pursued him in the forest, you alone could contemplate his beauty close at hand." "but..... was narcissus beautiful?" the lake asked. "who better than you to know that?" the goddesses said in wonder, "after all, it was by your banks that he knelt each day to contemplate himself!!" the lake was silent for some time. finally it said: "i weep for narcissus, but i never noticed that narcissus was beautiful. i weep because, each time he knelt beside my banks, i could see, in the depths of his eyes, my own beauty reflected." paulo coelho bukunya sudah terjual 43 juta kopi dan diterjemahkan ke dalam 56 bah...

Dialog LXXXIII: Januari 2025

Gedung ITB Innovation Park Technopolis seberang kantor Agate. 'Kusen' luarnya kayak gelombang radar. Sedang dalam pengaruh kafein. Mulai pudar setelah jalan-jalan ga jelas di Chiwalk, tarik napas, dan minum air putih sedikit. Nitro Coffee ZR Cafe anjeng. Mantap. Tapi bangsat. Bung. Bahasa, Bung. Maaf, pengaruh kafein bikin hati berdebar. Hanya ini yang bisa mengulang rasa patah hati. Namun, tanpa pemanis berupa sisa rasa berharap bekas obsesi asmara. Kondisi kamu seperti ini, mau nulis? Keburu lupa. Yah, aku gak akan detail lagi sih. 2025 ini lebih buruk. Sedikit yang kuingat juga lumayan. Bulan ini aku masih ada kontrak kerjaan Unity dengan Lunar Interactive. Bayarannya lumayan. Selain itu, aku mencoba melamar ke Wisageni Studio di Jogja. Kebayang-bayang kalau pindah ke sana. Namun, saat tes teknis programming... aku kewalahan dan menyerah di akhir batas pengumpulan tugas. Sedikit hal yang menarik, saat menunggu soal tes datang, aku mencoba demo game K-Pop Idol Stories, game m...