Ternyata sudah tiga kali aku mendokumentasikan suasana Hari Kemerdekaan. Aneh, buatku, yang tidak begitu nasionalis, dan tidak mengimani ‘NKRI harga mati’. Namun, bertahun-tahun tidak peduli membuatku penasaran.
2 tahun lalu aku berjalan-jalan di sekitar Sukaraja dan
Gunung Batu melalui gang sempit dengan umbul-umbul melintang di langitnya dan
terjebak dalam pawai yang menyesakkan jalan. Pesawat-pesawatan dari tempelan
kertas merayap tidak jauh dari lapang udara tempat hangar-hangar berisi pesawat
betulan.
Tahun lalu aku hanya menonton upacara di alun-alun kampung
halaman. Barisan Korpri bubar sebelum upcara benar-benar habis. Polisi dan
militer masih tegak berdiri di tengah terik langit Agustus. Ah, kupikir,
makanya ASN-ASN yang tidak hormat pada kekhidmatan acara dan tidak punya
tenggang rasa ini sebaiknya diganti saja dengan orang-orang barak. Hingga aku
ingat kalau upacara ini adalah kebiasaan militer, sedangkan atasan ASN itu setidaknya berteduh di bawah tenda.
Tahun ini aku berjalan-jalan di sekitar rumah. Selintas
melewati upacara di alun-alun, lalu bergerak lagi melihat lomba-lomba di teras
toko-toko besar. Anak-anak dan ibu-ibu berjalan beriringan dengan pakaian
merah-putih. Pemandangan yang bertahan setiap pagi sampai beberapa hari ke
depan. Sesekali melintas motor, angkot, atau becak dengan bendera terkibar.
Toko baju dipenuhi kaos merah-putih. Banyak yang disablon dengan gambar hasil
kecerdasan buatan. Di sudut-sudut lain yang agak dekat dengan alun-alun,
orang-orang berbatik Korpri berkeliaran. Mungkin seharusnya aku tidak melihat
mereka di tempat-tempat itu.
Lalu di televisi, terlihat karnaval meriah di ibu kota. Ratusan
ribu, katanya, berlari entah menuju apa. Di media sosial, jauh di kecamatan
lain di kabupaten kampungku orang mendirikan monster dan kapal selam raksasa.
Sisanya berempati pada bencana gempa di NTT, berbagi suasana yang meriah/sepi
(proyeksi pandangan masing-masing), dan atau menyatakan pernyataan; kita belum
merdeka.
Aku tidak mau ikut-ikutan bilang kita belum merdeka dan
sebagainya. Pernyataan itu seperti tidak menghargai aktivis, diplomat, dan
pejuang masa revolusi. Aku paham kita frustasi dengan situasi saat ini. Aku
juga merasakannya. Lagipula, kita perlu mengakui bahwa banyak aspek yang tidak
sukses dalam perubahan tatanan kenegaraan baik itu di Reformasi ’98 dan sama
juga waktu Revolusi ’45. Namun, rasa frustasi itu masih kalah dengan rasa
hormat saya pada orang-orang yang berjuang dan mencapai kemenangannya. Meski
saat ini kita pandang semu. Atau kita anggap kecil.
Apakah aku terpengaruh perayaan orang-orang? Tadinya aku
berniat untuk mengkonfirmasi bahwa animo masyarakat soal 17-an sudah meredup.
Aku ingat waktu kecil, pawai 17-an selalu masif dan meriah. Sekarang tidak
begitu. Diganti acara-acara yang sporadis di RT atau kantor masing-masing.
Tradisi-tradisi masih menghubungkan seseorang dengan warga Indonesia lain yang
merayakan dengan cara yang sama di setiap ruang dan masa. Atau setidaknya,
memberikan rehat dari frustasi baik yang diakibatkan oleh negara itu sendiri
atau bukan.
Antusiasme itu ada. Berkurang? Entah. Relevan dengan
kemerdekaan? Juga entah.
Teman lamaku diwawancara di televisi. Kerjanya jadi congor
pemerintah; dan dia punya congor termanis senegri ini yang sangat kompeten untuk
kerjanya itu. Menanggapi kritik perayaan di tengah musibah di NTT (atau keluhan
apapun), dia menanggapi bahwa kita (atau presiden? Lupa) ingin menyebarkan
energi dari perayaan itu ke seluruh negeri. Maksudnya agar menjadi semangat yang
berdampak positif kepada seluruh warga, dan tak lupa menitip doa dan empati
pada musibah di NTT. Aku sudah eneg dengan kata-kata manis, tapi memang
berharap perayaan dihentikan itu tidak rasional dan tidak adil bagi penyelenggara.
Apapun alasannya; empati lah, belum merdeka lah. Namun, aku sedikit berharap
Presiden merayakannya di NTT alih-alih di istana. Persetan tamu negara.
Seperti yang orang sok tahu bilang, negara ini proyek yang
belum selesai. Progress tidak bisa jadi semalam dan tidak liniear; ada turun-naiknya.
Atau seperti yang dibilang @based.indo (The Based(less) Indonesian Show), buang
mimpi untuk melihat perubahan di masa hidupmu. Berjuanglah untuk perubahan yang
akan dirasakan generasi setelahnya. Aku sepakat. Tentu saja banyak yang
berkomentar bahwa itu seakan mengkerdilkan usaha para aktivis saat ini. ‘Apakah
terlalu egois jika aku ingin melihat perubahan itu saat ini?’ Ga. Namun, ngapain sih ngejar hasil tanpa menghadapi proses? Apalagi tanpa belajar dari sejarah bahwa peradaban
luhur yang terbangun berabad lebih kuat dan damai daripada perubahan berdarah
semalam.
Aku membayangkan, ada orang yang mengambil semangat
apapun yang ia punya hari ini, betapapun tercemar. Ia lalu mengubahnya
menjadi bibit pohon dan mengurusnya. Lalu mengajarkan orang lain untuk merawatnya.
Sepeninggalnya, pohon itu terus tumbuh, memberi manfaat pada generasi anaknya.
Lalu cucunya. Lalu cicitnya berteduh di bawah pohon yang kokoh itu. Kalau tidak mau jadi orang itu, biarkan orang merayakan, dan menjadikan optimisme dari perayaan
sebagai bibit yang bertumbuh, berkelanjutan, dan menjadi pondasi yang memperluhur
pohon.
Semoga bukan pohon sawit- eh.






Comments