Minggu kemarin jalan-jalan ke Gasibu. Niatnya lihat hasil renovasi yang ngegabungin Gedung Sate dengan kawasan Gasibu. Aku ga ngerti urgensinya, tapi siapa tahu hasilnya lumayan bagus.
Eh, mengecewakan.
Daerah Gedung Satu dan Gasibu ternyata masih ditutup juga, sih. Bagian Gasibunya belum beres dan banyak masalah.
Bisa dipahami, sih, jika ingin menyatukan Gasibu dan Gedung Sate menjadi kawasan terbuka yang luas. Namun, sepertinya ada kompensasi atas penutupan jalan depan Gedung Sate dengan membuka satu lajur mengitari Gasibu yang mengikis batas-batasnya.
Karena ada pembatas, potensi salah lajur dan kejebak. Lol.
Penyebrangan dari Monumen Perjuangan jadi lebih jauh, akses terbatas, dan... kenapa tidak ada yang melihat ketinggian trotoar lalu melihatnya sebagai potensi bahaya? Belum lagi keluhan masyarakat difabel yang merasakan kalau fasilitas aksesibilitasnya jelek; tanjakan kursi roda di jalur masuk dekat penyebrangan terlalu curam.
Aku tidak masalah juga kalau Pemprov ingin memiliki identitas visual yang seragam di tiap gerbang bangunan milik Pemprov di seluruh Jawa Barat. Paham juga warna putih gerbangnya mengikuti warna dominan gedung. Tapi, tak bisa dihindari. Bagiku kelihatannya juelek. Tak lama akan terlihat kotor, meski gampang dicat ulang.
Kalau gerbang hitam yang nempel di Gedung Sate, yang kayak Bali itu, buatku oke. Kecuali kalau ada yang bilang itu ga pantes buat bangunan Sunda.
Agak maksain juga sih, pingin balik ke 2-3 abad yang lalu sementara bangunan yang ada bergaya modern. Terjadul di Bandung saja gayanya kolonial. Yah, memang perlu ada yang memulai ide ini sih soalnya arsitektur modern makin membosankan dan terlihat sama di semua kota, di seluruh dunia.
Renovasi yang tidak urgen ini sebenarnya gak terlalu bikin marah sih. Saya cuma bisa menilai dari hasilnya saja. Dan kalau seperti tidak terencana begini sih, bikin mikir kalau uang pajaknya sia-sia.
Padahal banyak proyek Jabar yang tidak terencana dengan benar, meski desainnya benar. Masa tidak belajar? Mau bongkar Teras Cihampelas yang konsepnya salah, tapi malah bikin proyekan baru yang masih salah juga.
Namanya juga belajar. Gak bisa langsung pinter 😀. Kita lihat saja nanti kalau sudah dibuka lagi awal tahun depan.
Btw, untungnya kita jalan-jalan dulu di Monumen Perjuangan Rakyat yang rame sama orang dan pedagang. Terlepas dari masalah 'rarujit' dan budaya nyampah, even dan ruang yang menyediakan sarana bagi orang buat berkumpul di luar adalah hal yang positif.
Taman Lansia juga masih ramai. Sayangnya memang jadi banyak pedagang masuk taman. Sampah dan ke-'rujitan' gak bisa dihindari juga sih, saat ini. Namun, asal bikin orang jalan-jalan ke luar, gak apa-apa dulu lah.

















Comments