Skip to main content

Posts

Menyair di 40 Km/jam

aku temui pagi dengan pemandangan yang berganti-ganti tiap detik. satu detik, beberapa meter terlampaui. udara pagi yang sejuk kian akrab dengan knalpot. hingga sampah-sampah busuk yang menumpuk menyemarakkan udara dari simpang jalan layang hingga atas jalan layang. aku hampir muntah. dari atas jalan layang aku lihat mentari perak tertutup awan. bersembunyi mengawasi pagi dan lika-liku kehidupan orang yang mengejar pukul tujuh teng. bekerja. menyumbang kehidupan dengan kehidupan. menyebar, memadat di pinggir-pinggir jalan hingga tengah-tengah jalan. kelak nanti, hari akan siang. bumi akan memanas bersama rakyat, tanah, dan pepohonannya. sepeda motor akan berjalan cepat, angkot akan berhenti mendadak, dimanapun, taksi akan angkuh menyalakan klakson, dan busway di jakarta akan dilempari batu, dipukuli kayu, dan digulingkan buruh; dirusak oleh orang-orang yang memanas. air tanah mengering dan hutan menggersang, mengerang. pohon-pohon dan emas hilang bersama-sama. minyak bumi diolah menja...

Dialog I: Meet and Greet

selamat datang, anda siapa ya? baiklah, silahkan masuk, meskipun saya tidak mengenal siapa anda. kita belum pernah bertemu dan jujur saja seumur hidup saya jarang menerima seorang tamu yang tak dikenal. meski sejak kecil saya anak rumahan, namun orang-orang tua selalu mengingatkan untuk tidak membukakan pintu untuk orang tak dikenal. aku sudah katakan bukan? aku adalah orang yang mengenalmu. baiklah. apakah setidaknya kamu punya nama untuk diingat? nama? hm... namaku apa ya? mungkin Aurora mungkin Fauzia atau mungkin Fivie...atau mungkin Ruby... hahaha... sudah kuduga, jantungmu akan berdetak lebih kencang jika kusebut nama itu. bagaimana jika kusebut bahwa aku adalah....perempuan? hahaha.... setidaknya, jangan menghunus mata tajam seperti itu. cukuplah bagimu untuk mengetahui, bahwa aku adalah orang yang mengetahuimu. mungkin satu-satunya...

Prolog

bersamaan dengan hari yang diawali satu sinaran fajar, kumasuki duniamu. mencari tempat duduk di jiwamu. jiwamu yang unik. dengan beragam kemelut dan jaring laba serta sarang burung. aku melihat air dan api bertarung diliuk angin. entahlah. aku merasa itu cahaya. ini aku. seseorang yang mengenal dirimu. mungkin lebih dalam dari dirimu, ibu dan ayahmu, atau teman-temanmu. yah, setidaknya aku terus berusaha mengenal dirimu. mengetahui perabot antik di jiwamu. getar-getar dari dipol-dipol yang berloncatan dan mengalir di neuronmu. detak jantungmu yang kadang kencang, kadang lemah. lalu hatimu yang begitu rapuh. izinkan aku datang. melakukan apa yang aku bisa untuk saling menambah wawasan denganmu. sebab aku yakin, kamulah cahaya. seperti namamu. aku ingin mengenalmu, setidaknya lebih dalam dari sekedar tahu bahwa namamu fajar fauzi hakim. hm?