Skip to main content

intelmecco: this post is posted by my 4 years old lil bro!

  • raisdell\\\\\\\

Comments

Popular posts from this blog

Dialog LX: You Tube, I Test

kata seorang teman , blog ini membosankan, isinya hanya tulisan melulu. maka saya mencoba untuk melakukan hal umum yang ternyata hampir belum pernah saya lakukan: memasang konten dari youtube . yup, hanya untuk memuaskan generasi audiovisual. kayaknya tidak perlu dijelaskan cara memasang konten dari youtube . namun saya baru tahu kalau setidaknya ada 2 cara; memanfaatkan video bar dan posting langsung. btw karena video naif yang sebelumnya agak diprotes, saya pasang naif yang lebih bagus. hidup naif!!! btw ini settingannya dikostumisasi dari youtube-nya. pakai border, tanpa video terkait, dan warna biru. lihat juga video bar 'favorite view' di sebelah kanan. namun nampaknya jika memberatkan, video bar ini akan dicabut.

Dialog LV: Coelho Calling?

when narcissus died, the goddesses of the forest appeared and found the lake, which had been fresh water, transformed into a lake of salty tears. "why do you weep?" the goddesses asked. "i weep for narcissus," the lake replied. "ah, it is no surprise that you weep for narcissus," they said, "for though we always pursued him in the forest, you alone could contemplate his beauty close at hand." "but..... was narcissus beautiful?" the lake asked. "who better than you to know that?" the goddesses said in wonder, "after all, it was by your banks that he knelt each day to contemplate himself!!" the lake was silent for some time. finally it said: "i weep for narcissus, but i never noticed that narcissus was beautiful. i weep because, each time he knelt beside my banks, i could see, in the depths of his eyes, my own beauty reflected." paulo coelho bukunya sudah terjual 43 juta kopi dan diterjemahkan ke dalam 56 bah...

Dialog LXI: Teralis

berbagai jenis dan desainnya, tujuannya untuk mencegah seseorang terjatuh dari jendela lantai dua dan melindungi rumah dari orang jahat di luar sana. sejak remaja, saya mulai membenci teralis sebab mempersulit saya untuk membuka jendela, terlebih menelonjorkan kepala untuk melihat pemandangan lebih luas dan menghirup udara pagi yang segar (kalau semalam atau subuhnya tidak ada yang bakar-bakaran). namun keluarga saya mungkin memang teralisholic. terutama semenjak rumah kami kemasukan maling, bahkan di pintu yang menuju ke bagian luar rumah dipasangi teralis. padahal di kamar saya, ada 'penjahat' yang terpenjara dibalik jeruji besi tersebut. tanpa bermaksud mempersalahkan sesuatu atau beberapa orang, saya merasa selalu ada di balik teralis. saat menyepi di taman ganesha, berlindung di sekretariat asisten comlabs, maupun di masjid, sepertinya saya membawa-bawa teralis. di kamar saya bahkan saat berbaring di atas pembaringan maka saya akan melihat langit-langit melewati teralis. s...